Saturday, November 16, 2019

Tiada Yang Baru Dengan Salafiy

Bunga Rampai Soal-Jawab Seputar Salafy
Abu Abdirrahman Alu Duri

Pasir Puteh

Apakah itu salafiy?
Salaf itu berasal dari bahasa Arab yang secara bahasa berarti pendahulu atau terdahulu sedangkan salafiy itu sendiri berarti pengikut salaf. Jadi makna salafiy ialah orang yang mengikuti salaf.

Siapakah mereka para salaf?
Mereka adalah orang saleh terdahulu yang dimulai dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian diikuti oleh para sahabat beliau radhiyallahu anhum dan para tabiin rahimahullah. Mereka juga disebut sebagai generasi terbaik. Atau juga disebut dengan salafussaleh.

Adakah dalilnya?
Iya ada. Dalam hadits ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berwasiat kepada Puteri beliau Fatimah radhiyallahu anha;  beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا أرى الأجل إلاّ قد اقترب، فاتقي الله واصبري، فإنه نعم السلف أنا لك
Maknanya:
Saya tidak melihat kematian melainkan ia telah mendekat, maka bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya saya adalah sebaik-baik salaf (pendahulu) bagi kamu. HR. Muslim

Bolehkah menyebut diri bahwa "saya salafiy"?
Salafi itu ialah manhaj atau metode atau cara bukan golongan dan kelompok tertentu.
Siapapun berhak mengklaim atau menisbatkan dirinya kepada salafi. Namun perlu diketahui ketika mengaku diri sebagai salafiy dengan niat untuk menyucikan diri dan menganggap diri lebih benar daripada yang lain maka perkara ini adalah terlarang.
Allah Ta'ala berfirman:
فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى
Maknanya:
Dan janganlah kalian menyucikan (menganggap suci) diri kalian kerana Dia (Allah Ta'ala) lah yang Maha Mengetahui siapa diantara kalian  yang paling bertakwa.

Siapakah yang berhak mengeluarkan seseorang dari salafiy?
Salafiy itu sebenarnya ialah Islam itu sendiri. Jadi, tidak ada yang berhak mengeluarkan seseorang atau kelompok dari salafiy melainkan perkara yang telah mengeluarkan dari Islam. Salafy bukanlah sebuah syarikat perusahaan yang dengan mudah mengeluarkan seseorang darinya.

Bolehkah mengatakan si fulan itu bukan salafy?
Hukum asal ialah tidak boleh, melainkan orang tersebut melakukan amalan-amalan yang telah jelas mengeluarkan dirinya dari salafy atau telah menyatakan permusuhannya kepada salafy. Namun sebab permusuhannya perlu dirinci apakah kerana jahil/tidak tahu ataukah kerana benci.

Apakah salafiy memecah belah umat Islam?
Istilah Salafiy biasanya dipergunakan ketika berhadapan dengan ahli bid'ah seperti syiah rafidhah, khawarij dan golongan yang menyimpang lainnya. Salafiy ialah nama lain dari ahlussunah waljamaah, ahlulhadits, thoifah al manshuroh dan firqatunnajiyah. Tidak dapat dielakkan bahwa dalam Islam ini telah ada golongan yang mengajak kepada penyimpangan. Namun ini adalah suatu sunnatullah yang berlaku di muka bumi ini. Bagi siapapun yang berpegang teguh diatas sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka merekalah salafiy atau ahlussunnah.

Benarkah salafiy anti mazhab?
Sebenarnya orang yang berusaha sedaya upaya untuk mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentulah akan senantiasa mencari amalan yang berdasarkan pada dalil-dalil Al Qur'an dan Assunnah serta ijmak. Namun bukan berarti mereka anti kepada mazhab, kerana pada hakikatnya seorang salafiy itu sangat menghargai dan mencintai para ulama mazhab.

Kenapa mesti ada nama salafiy?
Penamaan salafiy pada dekade terakhir ini banyak dilaungkan kembali oleh seorang pakar hadits negeri Syam Al Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddim Al Albani rahimahullah sebagai reaksi terhadap fenomena kejumudan dan kekakuan dalam bermazhab. Beliau menegaskan kembali istilah salafiy ini untuk membuang perilaku fanatik dan keta'asuban dalam bermazhab. Namun salafy bukanlah sebuah kelompok ekslusif yang dimiliki oleh orang-orang tertentu saja.

Metode Mencetak Ulama

Mengenal Barnamij Minhatu Al Muta'allim


Barnamij Minhatu Al Muta'allim adalah suatu program kegiatan pembelajaran (mudarasah) matan-matan induk yang disupervisi langsung oleh Ma'aly Asy Syaikh Shalih bin Hamad Al Ushaimi hafizhahullah. 

Kegiatan ini merupakan bentuk follow-up dari daurah muhimmat al ilmi yang diadakan di Masjid Nabawi. Kegiatan ini mewajibkan kepada pesertanya untuk menghafalkan 20 matan-matan yang telah ditentukan serta menguasai syarah Syaikh Shalih Al Ushaimi hafizhahullah terhadap matan-matan tersebut. Dalam setiap pekan diadakan halaqah mudarasah dari para peserta bersama syaikh yang merupakan murid dari syaikh. 

Target penyelesaian program ini adalah 2 tahun. Selain itu diharapkan kepada peserta untuk menghadiri durus berkelanjutan diluar program ini membahas matan tersebut tiap pekan meskipun tidak wajib.

Matan-matan tersebut bersanad hingga ke penulisnya dan diberikan oleh Syaikh Shalih Al Ushaimi hafizhahullah di akhir pengkhataman setiap kitab di daurah muhimmat al ilmi.
Matan-matan tersebut ialah:
1. Ta'zhim Al Ilmi
2. Tsalalatsatu Al Ushul
3. Qawaid Al Arba'
4. Kitab Tauhid
5. Aqidah Al Wasithiyyah
6. Arbain An Nawawiyah
7. Kasyfu Asysyubuhat
8. Al Waraqat
9. Nukhbatu Al Fikr
10. Al Adab Al Asyara
11. Al Khulasatu Al Hasna
12. Al Baqiyatussholihat
13. Al Muqaddimah Al Fiqhiyah Ash-shugra
14. Tafsir Al Fatihah Was Qishar Al Mufashshol
15. Fadhlu Al Islam
16. Muqaddimah Ushul Attafsir
17.  Al Muqaddimah Al Ajurromiyah
18.  Bahjatu atthalab fi adab atthalib
19. Azziyadatu Arrajabiyah
20. Manzhumah Al Qawaid Al Fiqhiyah

Tuesday, November 12, 2019

Terjemah Al Qashidah Al Laamiyah Ibnu Taimiyah rahimahullah (661-727 H)



1. Wahai yang bertanya tentang mazhab dan akidahku Semoga diberikan petunjuk bagi yang bertanya tentang hidayah

2. Dengarkanlah perkataan muhaqqiq dalam pernyataannya tidak berpaling diatasnya tidak pula berubah

3. Cinta sahabat seluruhnya mazhab bagiku Menyayangi ahli bait, dengannya kubertawassul

4. Dan tiap mereka punya kemuliaan yang tinggi serta keutamaan namun Asshiddiq yang paling afdhal diantara mereka

5. Dan aku menyatakan di dalam Al Qur'an telah datang dengannya ayat-ayat mulia dan ia diturunkan

6. Dan aku berkata Allah Jalla Jalaluh berfirman dan Al Musthofa yang diberi petunjuk dan aku tidak mentakwilkannya

7. Semua ayat-ayat sifat diperintahkan kepada kebenaran sebagaimana dinukilkan dari para pendahulu

8. Dan aku kembalikan kepada pembawanya dan aku menjaganya dari penghayalan

9. Buruklah bagi yang membelakangi Al Qur'an dan sekiranya ia berdalil maka dia berkata Akthal berkata

10. Dan orang beriman benar-benar melihat Rabb nya dan di atas langit tanpa membagaimanakan Dia turun.

11. Dan aku mengakui timbangan dan telaga yang aku berharap kelak meneguknya hingga lepas dahagaku

12. Demikian juga shirath yang membentang diatas jahannam maka keselamatanlah yang melaluinya dan yang lain ada yang terjatuh

13. Dan neraka dimasuki orang durjana dengan kebijaksanaan-Nya demikian juga orang bertakwa kepada syurga ia memasuki

14. Bagi yang hidup, berakal pada kuburnya amalan penemannya disana dan akan ditanya

15. Ini adalah aqidah Syafii, Malik, Abu Hanifah kemudian Ahmad yang diambil

16. Jikalau engkau mengikuti jalan mereka maka engkau orang yang diberi taufik dan jikalau engkau mengada-ngada maka tiada bagimu melainkan sesal

Mendudukan Permasalahan Bid'ah Makruhah


بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين وعليه التكلان

‌Sebagian orang mendefinisikan bid'ah makruhah sebagai suatu bid'ah ringan yang berkisar pada masalah khilafiyah ijtihadiyah fiqhiyah seperti melafazhkan niat, menjaharkan basmalah dalam sholat, qunut subuh, dsb dengan menukilkan alasan bahwa Imam Nawawi rahimahullah pernah menyatakan bahwa bid'ah makruhah ialah sesuatu yang tidak mendapatkan dosa.‌

‌Fenomena ini dilatarbelakangi oleh pemahaman keliru para pemula dikalangan penuntut ilmu yang hanya membatasi bid'ah pada dua kategori saja yaitu bid'ah mukaffirah dan bid'ah mufassiqah tidak ada yang lain. Kesalahpahaman ini memberikan konsekwensi dengan memfasikkan mentabdi' orang lain yang mengamalkan bid'ah makruhah.

Sebenarnya Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan istilah bid'ah makruhah di kitab beliau (diantaranya minhajussunnah dan majmu' fatawa) namun menurut Prof Dr. Abdullah As-Sahly hafizhahullah (Guru besar bidang Aqidah di Jamiah Malik Saud) bahwa yang dimaksudkan oleh Imam Ibnu Taimiyah sebagai bid'ah makruhah ialah bid'ah yang diharamkan karena dalam syariat istilah makruh juga dimaksudkan untuk sesuatu yang diharamkan tergantung pada konteks pembicaraannya. Syaikh Shalih Al Ushaimi hafizhahullah dalam syarah kitabuttauhid mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan makruh atau "karahah" di kalangan salaf ialah perkara yang diharamkan. Namun perlu dipahami bahwa tingkat keharamannya juga bertingkat-tingkat sebagaimana kefasikan.
‌Dan kelihatannya penggunaan istilah bid'ah makruhah oleh Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah bentuk tanawwu' mushthalahat. Oleh karena itu, kalau kita memperhatikan secara seksama konteks pembahasan beliau maka akan tampak hal tersebut.

Sebagian orang tidak memaknai definisi "ni'mal bid'ah" dalam perkataan Umar bin Khattab radhiallahu anhu sebagai bid'ah secara bahasa (lughawiyah).
‌Memang pada realitanya sebagian orang keliru dalam menyamakan konsekwensi bid'ah berat dari khawarij dll dengan bid'ah ringan. 

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

* مسألة أن كل بدعة في الدين ضلالة محرمة، هذا مما أجمع عليه الصحابة والسلف الصالح، ولم تنتشر البدع إلا بعد القرون الثلاثة الفاضلة حين صارت للروافض والقرامطة دولة، وكثرت الطرق الصوفية النكدة.
--------
ص64 - كتاب اقتضاء الصراط المستقيم لمخالفة أصحاب الجحيم - الموضوع العاشر حول مفهوم البدعة - المكتبة الشاملة الحديثة
--------
الرابط:https://al-maktaba.org/book/11620/53#p3

Lebih lanjut beliau rahimahullah berkata
* أن ما اعتاده بعض الناس، أو حتى أكثرهم، في بلاد المسلمين، من الإقرار ببعض البدع، وعملهم لها، وسكوت بعض العلماء عنها، وعمل بعضهم لها، ودعوة آخرين إليها؛ كل هذا لا يصلح دليلًا على أنها بدع حسنة ومقبولة، ومرضية في دين الله؛ لأن الدليل المجمع عليه إنما هو كتاب الله، أو سنة رسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم وسنة الخلفاء الراشدين والإجماع، وهذه الأصول كلها تبطل البدع، أما مجرد أعمال وأقوال تصدر من بعض المسلمين أو أكثرهم- وإن سموا علماء- فهذا لا يصير دليلًا بالإجماع.
--------
ص64 - كتاب اقتضاء الصراط المستقيم لمخالفة أصحاب الجحيم - الموضوع العاشر حول مفهوم البدعة - المكتبة الشاملة الحديثة

Selayaknya dapat difahami bahwa sudah menjadi konsekwensi ketika kita melemahkan suatu pendapat karena pertimbangan dalil-dalil yang digunakan lemah, maka tentu saja kita akan berkesimpulan bahwa amalan itu bid'ah atau haram misalnya. Dan ini adalah perkara yang biasa/lumrah bagi para ulama menyikapinya. Misalnya pendirian Imam Ahmad rahimahullah tentang bid'ahnya qunut subuh terhadap Imam Syafii rahimahullah yang membolehkan qunut subuh. Hanyasaja tidak boleh menerapkan penerapan konsekwensi bid'ah-bid'ah ushuliyah dalam bid'ah masalah ijtihadiyah.‌ 

Kalau kita mendudukan persoalan bid'ah makruhah secara menyeluruh maka tentu kita akan mengembalikan kepada hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam "kullu bid'atun dhalalah" maka dapat difahami secara manthuq bahwa semua bid'ah itu sesat namun secara tafshil tingkat kesesatannya bertingkat-tingkat dan berbeda. Demikian halnya dengan dosa dan kemaksiatan yang bertingkat-tingkat yaitu ada dosa besar ada dosa kecil atau dengan contoh lain ada kufur akbar ada kufur asghar, ada syirik akbar yang mengeluarkan dari keislaman ada juga syirik asghar yang mengurangi kesempurnaan iman.
والله تعالى أعلم بالصواب

Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari perkara bid’ah dalam agama ini.

Sunday, February 3, 2019

Ilmu Ekonomi dan Tauhid

Ketika Amirul Mu’minin Umar bin khattab radhiallahu anhu mengangkat Amr bin Ash radhiallahu anhu sebagai gubernur Mesir. Suatu ketika Amr bin Ash radhiallahu anhu menghadapi permasalahan krusial (krisis) dimana air sungai Nil mengering sehingga otomatis sendi-sendi ekonomi tiba-tiba terputus. Lalu beliau menanyakan kepada orang-orang Kristen Koptik (penduduk asli Mesir) kenapa hal tersebut terjadi, lalu orang Koptik menjawab hal ini biasa terjadi setiap tahun namun biasanya sungai nil minta tumbal, kalau kami biasanya memberikan sembelihan seperti kerbau dan lain-lain, yang sangat berpengaruh bagi sungai nil dan langsung mengalir ialah ketika tumbalnya adalah anak gadis.

Amr bin Ash radhiallahu anhu menganggap hal ini tidak normal. Beliau kemudian mengirim surat kepada Umar bin khattab radhiallahu anhu sebagai seorang khalifah penanggung jawab urusan kaum muslimin. Seketika itu Umar langsung langsung membala dengan menulis surat dan meminta agar surat tersebut dibacakan kepada sungai nil, yang berisi; 

wahai sungai nil seandainya engkau mengalir karena kami butuh kepadamu maka janganlah mengalir sampai hari kiamat namun jika engkau mengalir karena qudrat dan iradat (kehendak) Allah maka mengalirlah”. 



Maka semenjak saat itu sungai nil mengalir seterusnya bahkan tidak pernah kering lagi.

Pelajaran Penting



  • Bertawakal kepada Allah Ta’ala dalam segala urusan baik dalam urusan perekonomian, jangan serahkan urusan kepada makhluk.
  • Jangan lakukan kesyirikan ketika mengalami permasalahan, kembalikan semua kepada Allah Ta’ala.
  • Allah Maha Besar dan Allah Maha Ada Maha memberi jalan keluar segala permasalahan yang kita alami.
  • Dengan mentauhidkan Allah maka niscaya Allah akan memberikan jalan keluar atas segala permasalahan.
  • Ketika mengalami permasalahan baik dalam skala makro (kenegaraan) pun jangan langsung serahkan permasalahan kepada manusia namun kembalikanlah kepada Allah Ta’ala.
  • Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari kesyirikan dan menjadikan negeri-negeri kaum muslimin baladatun thoyyibatun muwahhidun
    Maraji’ Dars Fiqh Doa dan Dzikir oleh Al Ustadz Dr. Dasman Yahya Ma’ali, Lc. MA. Hafizhahullah

    Tuesday, August 15, 2017

    Biografi Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak Hafizhahullah

    Penerjemah
    Abu Abdirrahman Adduri

    Nama dan Keturunan:

    Abdurrahman bin Nashir bin Barrak bin Ibrahim Al-Barrak, nasab beliau kembali kepada Alu Urainah yang merupakan sub-qabilah Subaie dari Al Mudhriyah dari Al Adnaniyah.

    Kunyah Beliau: Abu Abdullah


    Kelahiran Dan Pertumbuhan Beliau:


    Syaikh dilahirkan pada tahun 1352 AH di kota Bukairiyah, Provinsi Qassim. Ayah beliau meninggal sejak kecil sehingga beliau tidak mengenalinya, dan beliau memperoleh sebaik-baik pendidikan dari ibunya. Qadarullah pada umur sembilan tahun beliau terserang penyakit yang menyebabkan beliau kehilangan penglihatan.

    Riwayat Menuntut Ilmu Dan Guru-Guru Beliau:


    • Syaikh mulai menuntut ilmu sejak kecil, lalu menghafal Alquran pada umur sekitar dua belas tahun. 
    • Beliau mulai membaca kitab ke beberapa kerabatnya kemudian kepada qari negeri pada waktu itu yaitu Syaikh Abdurrahman bin Salim Alkuraidis, 
    • dan beliau menuntut ilmu di daerahnya melalui Syaikh Muhammad bin Muqbil hakim Bukairiyah 
    • dan Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Assubail (hakim Bukairiyah, pakar, dan alim setelah Syaikh beliau Ibnu Muqbil.
    • Kemudian beliau banyak melakukan perjalanan ke Makkah dan ia tinggal disana beberapa tahun. 
    • Membaca (kitab) kepada Syaikh Abdullah bin Muhammad Al Khulaifi (Imam Masjidil Haram) 
    • dan disana bertemu dengan seorang lelaki yang terhormat diantara murid senior Al Allamah Muhammad bin Ibrahim yaitu Syaikh Saleh bin Hussein Al Iraqi.
    • Kemudian pada tahun 1369 beliau berangkat bersama dengan Syaikh Al Iraqi mendatangi Syekh Ibnu Baz sewaktu beliau menjabat hakim di kota Dilam, dan tinggal menuntut ilmu kepada Syaikh Ibnu Baz hampir dua tahun. Selama berguru kepada syaikh Ibnu Baz banyak memberi pengaruh yang besar dalam karir ilmiahnya.

    Jenjang Akademik:


    Syaikh kemudian masuk belajar di Ma’had Ilmi di kota Riyadh ketika dibuka pada 01/01/1371 H. Kemudian selesai dari ma’had tersebut dan masuk belajar di fakultas syariah pada tahun 1378 H. 
    • Diantara masyaikh beliau yang paling menonjol di Ma’had Ilmi ialah Al Allamah Muhammad Al Amin Asysyinqiti rahimahullah, mengajar beliau tafsir dan ushul fiqh. D
    • Al Allamah Abdul Razzaq Afifi rahimahullah mengajar beliau tauhid, nahwu dan ushul fiqh dan masyaikh yang lainnya rahimahumullah
    • Beliau juga menghadiri beberapa durus Al Allamah Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh.
    • Diantara masyaikh yang paling penting dan paling berperan dalam mempengaruhi kepribadiannya adalah Al Allamah Al Imam Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah, dimana beliau mengambil faidah lebih dari 50 tahun dimulai sejak tahun 1369 H ketika Al Imam Ibnu Baz di kota Dilam sampai wafat beliau pada tahun 1420 H.
    • Kemudian dari Syaikh Al Iraqi beliau mengambil faidah tentang kecintaan kepada dalil dan meninggalkan taklid, mempertajam ilmu lughah, nahwu, sharaf dan arudh.

    Hafalan Beliau:


    Syaikh menghafal Al-Quran, Bulughul Maram, Kitab Tauhid, Kasyfu Asyubuhat, Al Ushulu Atssalatsah, Syurutu Assholah, Al Ajurumiyah, Qatrunnada, Alfiyah Ibnu Malik dan lain-lain.  
    Syaikh sangat menekankan membahas matan-matan seperti Attadmuriyah, Syarh Atthohawiyah bahkan berulang-ulang hingga tidak terhitung lagi berapa kali beliau mensyarahnya. Juga dibacakan kepada beliau kitab Zad Almustaqni di masjid dan di kampus bersama mutun lainnya.

    Pekerjaan Beliau:


    • Syaikh pernah bekerja sebagai guru di Ma’had Ilmi di kota Riyadh selama tiga tahun dari tahun 1379 H hingga tahun 1381 H.
    • Kemudian beliau pindah mengajar di Fakultas Syariah di Riyadh.
    • Ketika dibuka Fakultas Ushuluddin beliau berpindah dan dan bekerja sebagai dosen pada jurusan Aqidah sampai beliau pensiun pada tahun 1420 H.
    • Dan menjadi pembimbing bagi puluhan karya imiah thesis S2 dan disertasi S3.
    • Setelah beliau pensiun, kampus ingin memperpanjang kontrak beliau tetapi beliau menolak.
    • Syaikh Ibnu Baz mengajak beliau berkali-kali untuk masuk di Lajnah Daimah (Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) tetapi beliau menolak. Syaikh Ibnu Baz menunjuk beliau sebagai wakil mufti di Dewan Fatwa di Riyadh pada musim panas ketika mufti pindah ke kota Taif, beliau memenuhi permintaan Syaikh dengan penuh kerendahan hati, dan beliau menyanggupi selama dua periode lalu setelah itu mengundurkan diri.
    • Setelah wafatnya Syekh Ibnu Baz rahimahullah, Mufti Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhahullah meminta beliau menjadi anggota Dewan Fatwa bahkan mendesak beliau tetapi beliau menolak dengan alasan khawatir menyebabkan putusnya durus di masjid beliau.

    Kesungguhan Beliau Dalam Penyebaran Ilmu:


    Syaikh mengajar di masjid Al Khulaifiy di kompleks Al Faruq sekaligus beliau bertugas sebagai Imam masjid. Kebanyakan durus beliau di masjid tersebut dan juga mengajar murid-murid khusus beliau di rumah beliau. Beliau juga memiliki durus di masjid-masjid lainnya. Disamping itu banyak juga mengisi daurah ilmiah yang diadakan di musim panas, mengisi ceramah-ceramah di kota Riyadh, dan di daerah-daerah lainnya di Arab Saudi. Durus pekanan beliau lebih dari dua puluh durus yang terdiri dari berbagai cabang ilmu syariah. Syaikh juga mengajarkan ilmu lainnya seperti lughah, mantiq, dan balaghah.

    Murid-Murid Beliau:


    Murid-murid Syaikh sangat banyak hingga tidak terhitung lagi, dan kebanyakan dari mereka adalah dosen dan du’at terkenal, dan lain-lainnya yang mendapatkan manfaat dari Syaikh secara umum dan secara khusus. Banyak juga penuntut ilmu dari luar negeri mengikuti pelajaran Syaikh secara live via online dari situs Islamlight.


    Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Beliau:


    Syaikh dikenal memiliki perhatian besar dalam amar ma’ruf nahi munkar, menasihati dan menyurati penguasa dan memperingatkan orang-orang dari bid’ah dan berbagai kesesatan dan penyimpangan lainnya. Fatwa-fatwa beliau banyak yang mengamalkannya.


    Perhatian Beliau Dalam Urusan Kaum Muslimin:


    Syaikh hafizhahullah sangat perhatian terhadap urusan umat Islam di seluruh penjuru dunia dan beliau banyak bersedih dengan kondisi umat Islam. Diantara bentuk kelembutan beliau  adalah perhatian terhadap apa yang terjadi di berbaai belahan negara dan senantiasa mengikuti peristiwa yang terjadi terutama di saat krisis beliau melakukan qunut dan berdoa bagi mereka dalam sholat, mendoakan kehancuran musuh-musuh mereka. Beliau memiliki banyak fatwa yang tersebar di mana-mana dalam masalah kontemporer kaum muslimin.

    Zuhud dan Wara’ Beliau:


    Syaikh sangat zuhud dari ketenaran, popularitas, dan menyombongkan diri. Kerendahan hati beliau sangat menakjubkan, kesederhanaan yang tiada batasnya, dan sedikit makan, pakaian, kendaraan, rumah, hal ini dapat diketahui dari semua orang yang melihat beliau dan berinteraksi dengan beliau. Dan diantara bentuk kerendahan hati beliau adalah ketelitian beliau dalam mengumpulkan dalil: kajian yang luas dan makrifat tentang perkataan salaf dan khalaf, maklumat yang sangat kuat dalam berbagai bidang ilmu, hafalan dalil-dalil, pikiran yang bijaksana dan berbobot, pengetahuan tentang alasan pendalilan khalaf dan kemampuan yang menakjubkan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang diperselisihkan. Kaset dan durus beliau menjadi saksi terbaik dalam hal ini. Seandainya kaset-kaset rekaman durus beliau ditranskrip bersama komentar murid-murid beliau yang bertemu dengan beliau maka niscaya orang-orang akan takjub dengan beliau.
    Syaikh sangat menonjol dalam ilmu aqidah, memiliki sifat dermawan, dan beliau menjadi salah satu rujukan penting disaat sekarang.


    Pujian Masyaikh Kepada Beliau:


    Banyak masyaikh yang memuji beliau, bahkan kita tidak menemukan masyaikh yang mengenalnya melainkan mereka memujinya. Diantaranya:
    • Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah suatu ketika memuji Syaikh Al Barrak dengan mengatakan bahwa beliau adalah seorang yang luar biasa. Dan Syaikh Ibnu Baz dalam urusan fatwa biasa mewakilkan kepada beliau dan beliau juga merupakan murid kepercayaan Syaikh Bin Baz.
    • Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahullah pernah bertanya kepada Al Allamah Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah di akhir-akhir hayat beliau, kepada siapa kita bertanya setelah anda wahai Syaikh? Lalu Syaikh Al Utsaimin memuji Syaikh Abdurrahman Al Barrak kemudian Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhahullah dan selanjutnya beliau menganjurkan untuk meminta fatwa kepada kedua syaikh tersebut.

    Karya-Karya Ilmiah Beliau


    Telah diketahui bahwa syaikh tidak banyak menulis disebabkan udzur beliau dan kesibukan mengajar. Akan tetapi syaikh memiliki durus yang banyak dan tersedia dalam bentuk rekaman misalnya:
    1.      Muqaddimah fi ilmi al aqidah
    2.      Syarah alushulutstsalatsah
    3.      Syarah al qawaid al arba’ah
    4.      Syarah kitaubuttauhid
    5.      Syarah kitab kalimuatul ikhlash li ibni rajab
    6.      Syarah haaiyah ibnu abi daud
    7.      Syarah masail jahiliah
    8.      Syarah al aqidah aththohawiyah
    9.      Syarah al aqidah al wasithiyah
    10.   Syarah mujarrad lawami’ al anwar fi aqaid ahli atsar li ibni syakr asyafi’iy
    11.   Syarah kitab umdatul ahkam (kitab aththoharah)
    12.   Syarah aqidah ashabul hadits
    13.   Mulhatu al’irob
    14.   Dan masih banyak yang lainnya, dan juga yang tidak direkam


     Transkrip Durus Beliau Yang Telah Diterbitkan:

    1. Jawab iman wanawaqidhihi terbitan darul muhaddits
    2. Syarah attadmuriah terbitan dar isbiliya
    3. Syarh al wasithiyah terbitan dar attadmuriyah



    Semoga Allah memberkahi umur syaikh, dan menambahkan orang-orang yang mengumpulkan imu dan fatwa beliau. Karena sesungguhnya ilmu beliau dibangun diatas dalil-dalil, ketelitian dan keterperincian -nahsabuhu kadzalik wa la nuzakki alallahi-. Dan kita memohon kepada Allah agar memanjangkan umur beliau, memberi kesehatan, ketaqwaan dan manfaat kepada kaum muslimin dengan ilmu beliau.


    Sumber:
    Diterjemahkan dari situs beliau:




    Monday, April 18, 2016

    Berbagi Cerita Seputar Ushul Fiqh

    Hari sabtu kemarin kami mengikuti daurah ushul fiqh yang diselenggarakan oleh wafid ilmi pematerinya syaikh Dr. Ishom al uwaid. Syaikh menjelaskan tentang kaidah-kaidah dalam ushul fiqh berikut contoh-contohnya. Termasuk bahasan perbedaan di kalangan usuliyyin memahami lafaz dan penunjukan suatu dalil, perbedaan penerapan fatwa di tiap tempat dan waktu. Sebagian peserta ada yang belum mendalami ushul fiqh lebih jauh dan sebagian mereka termasuk orang-orang mutasyaddid.

    Singkat cerita, selepas daurah dlm perjalanan dg beberapa teman yg sempat ikut daurah mengkritisi syaikh dengan mengatakan syaikh punya maksud tertentu, penyebab masalah, ada juga yang mengatakan bahwa syaikh menyesatkan pendengar dan cercaan lainnya. Sayang mereka tidak bicara langsung dengan syaikh. Hanya berani mengkritik tanpa sepengetahuan syaikh.

    Disini ada beberapa pelajaran yang bisa disimpulkan:
    1. Perlunya penuntut ilmu menuntut ilmu secara bertahap dari yang mudah ke yang lebih sulit untuk memudahkan sampainya pemahaman yang shohih
    2. Mempelajari ilmu ushul fiqh mengantarkan kita kepada sikap terbuka terhadap ikhtilaf yg mu'tabar di kalangan ulama
    3. Penuntut ilmu yang belum paham hakikat ushul fiqh lalu mendalaminya secara langsung terutama materi yang berat dapat menimbulkan fitnah
    4. Ilmu Islam begitu luas masih banyak yang perlu kita telaah
    5.  Sifat tasyaddud dalam agama melahirkan sifat sok tahu (berlagak pandai)
    6. Ternyata metode orang mutasyaddid di mana pun darimana pun entah dia dari negara ini atau negara itu sama saja yaitu tidak mau mendengar penjelasan orang yang bersebrangan dengannya, mempunish secara terburu-buru, mencaci dan mencela tanpa menasihati dan mengedepankan prasangka buruk.
    Wallahul musta'an. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua serta memperbaiki keadaan kaum muslimin.

    Riyadh, 11 Rajab 1437