Wednesday, March 18, 2020

Nasihat itu datang dari hati dan akan masuk ke hati juga...

Tidak ada masalah jikalau orang memilih ustadz atau syaikh atau guru tertentu untuk didengarkan dan dijadikan rujukan dalam masalah fatwa karena hal itu sudah menjadi sunnatullah bahwa hati orang akan cenderung pada orang yang dicintainya. Sebagai suatu contoh; salah satu yang membuat Ust Muhammad Yusran Anshar hafizhahullah disukai dan didengarkan kebanyakan orang karena nasihat beliau terasa mengalir dari hati ke hati.... Lebih dahulu dari itu misalnya ada yang lebih cenderung pada pendapat Imam Ibnu Baz rahimahullah dan yang lain ada yang condong pada pendapat Imam Al Albani rahimahullah. Ini suatu hal yang fitrah. Dan hal ini juga tidak berarti bahwa semua dari ustadz atau ulama fulan itu benar. Contoh praktis dalam hal ini seperti pada masalah memilih pendapat fiqh sholat diantara kedua alim misalnya; saya lebih condong pada kebanyakan pendapat Imam Ibnu Baz rahimahullah tetapi pada pendapat turun sujud dan masalah sutrah (pembatas sholat) saya lebih condong pada pendapat Imam Albani rahimahullah. Dan sekali-kali ini hanyalah permisalan sederhana untuk meng-kongkritkan kasus ini. Dan tidak boleh ada pengingkaran dengan orang lain yang berselisih dengan saya selama ia memiliki hujjah atau taklid kepada ulama atau ustadz fulan.

Dinukilkan suatu faidah perkataan pensyarah  hadits tentang niat innamal a'malu binniat bahwa sesuatu yang datang dari hati akan mudah masuk ke hati juga. Dan tentu saja hanya Allah Ta'ala jualah yang Maha Mengetahui hati sekalian hamba-hamba-Nya namun kita hanya menghukumi dari yang dhohir.

Demikian halnya dalam kaidah ushul fiqh, kita hendaknya memilih pendapat atau fatwa disaat bertaqlid pada seorang alim yang hati kita lebih cenderung kepadanya dengan melihat ketakwaannya, alimnya, zuhudnya, wara'nya dan lain-lain dari segi agamanya. Namun bukan berarti kita menafikkan ketakwaan yang selainnya cuma perkara tersebut menyangkut masalah hati ke hati.

Memang disitulah fitnah hasad muncul dikala seorang alim atau penuntut ilmu atau dai tertentu mendapatkan perhatian yang besar dari murid-muridnya sementara yang lainnya tidak demikian. Dan ujian itu berat, sehingga timbul lah kemasan-kemasan indah atas nama tahdzir, boikot dan jarh watta'dil namun hanya mengungkapkan rasa dengki yang terpendam selama ini. Padahal kalau kita menelaah kisah-kisah Imam Syafii dan Imam Ahmad sebagai sesama alim dan mujtahid maka kita akan mendapati mereka selalu mengakui keutamaan satu sama lainnya. Kata Imam Syafii rahimahullah saya keluar dari Baghdad dan saya tidak melihat Imam Ahmad rahimahullah melainkan orang yang lebih bertakwa, alim, zuhud dan wara' padahal Imam Syafii adalah seorang yang alim juga ahli hadits dan imam ushul fiqh.

Namun perlu diperhatikan adab penuntut ilmu serta pecinta ilmu dan ulama selayaknya mereka tidak memperhadap-hadapkan serta memperlagakan para ulama atau ustadz yang satu dengan yang lainnya. Ini adalah salah satu diantara adab dalam berinteraksi (ta'amul) dengan para ulama, ustadz, dai atau orang yang lebih alim dari kita. Dan salah satu makna yang terkandung dalam hadits dagingnya para ulama beracun. Yang terlarang adalah sifat berlebih-lebihan (ghuluw), fanatik buta(ta'assub) dengan orang yang dikagumi sehingga menghalangi untuk menerima kebenaran dari orang lain.

Semoga Allah Taala senantiasa menjaga para ulama kita dan memperindah akhlak kita dalam bermuamalh dengan mereka.

Tuesday, February 11, 2020

Previlege Persaudaraan Itu Jaminan Dari Allah Ta'ala

Catatan sebuah perjalanan di dua kota suci...

Barangkali sebahagian manusia merasakan ketidakridhaan suatu ketika ia tidak mendapatkan perlakuan khusus dalam interaksi sosialnya.

Walaupun mungkin telah disadari bahwa tiap individu memiliki cara yang berbeda dalam men-treat orang-orang disekitarnya bahkan termasuk orang yang telah lama dekat dengannya sekalipun.

Kadang memang naluri manusia ingin selalu mendapatkan layanan platinum pada prinsip tahqiqul Al Maslahah dalam muamalahnya dengan yang lain dan mungkin saja akan merasa kecewa apabila tidak memperoleh apa yang diharapkannya.

Namun jika hubungan ukhuwah, persaudaraan dan tali silaturrahim itu dibangun diatas rasa cinta dan kasih sayang semata-mata karena Allah dan di jalan Allah maka segalanya akan terasa indah dan nikmat.
Pertemuan dengan Al Akh Harun Al Kaluppini dari Enrekang di Masjidil Haram

Perlakuan khusus atau platinum class itu kalaupun tidak didapatkan pada manusia sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala telah jaminkan bagi mereka yang menjalin kasih sayang dengan saudara-saudaranya dengan hanya mengharapkan ridha Ilahi.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,
“من عاد مريضًا، أو زار أخًا له في الله؛ ناداه منادٍ بأنْ طِبْتَ وطاب مَمْشاكَ، وتبوَّأتَ من الجنةِ مَنْزِلاً”

“Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, ‘Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di syurga.” (HR. At-Tirmidzi)
Ziarah ke kampus Al Akh Panca Sakti Kamal asal Bone di Universitas Islam Madinah

Bertemu dengan Al Akh Mujahid Siddiq asal Enrekang di Pameran "Ummat Terbaik" di Universitas Islam Madinah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam juga bersabda

إن رجلاً زار أخًا له في قرية أخرى، فأرصد الله تعالى على مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فلما أتى عليه، قال: أين تريد؟ قال: أريد أخًا لي في هذه القرية، قال: هل لك من نعمة تَرُبُّها عليه؟ قال: لا، غير أنني أحببته في الله تعالى، قال: فإني رسول الله إليك أخبرك بأن الله قد أحبَّك كما أحببْتَه فيه”

“Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah kampung. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya, “Mau kemana?” Orang tersebut menjawab, “Saya mau mengunjungi saudara di kampung ini.” Malaikat bertanya, “Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)

Persaudaraan yang dibangun diatas iman itu punya buah yang manis dan lezat dan dapat dicicipi rasanya oleh orang-orang beriman sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam:
ثلاثة من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا الله، وأن يكره أن يعود إلى الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يُقذف في النار”

“Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)
Di Gerbang Utama Universitas Islam Madinah bersama Al Akh Panca Sakti Kamal

Dalam persaudaraan yang terbina ini satu-satunya harapan adalah semoga ianya menjadi amal mulia dalam bertaqarrub kepada Allah Ta'ala dan menjadi jalan pengampunan atas dosa-dosa yang ada serta penuh asa kelak dikumpulkan di syurga Al Firdaus yang tinggi.

Monday, January 27, 2020

Antara Fanatisme dan Kebenaran, Sebuah Reminder Diri Dan Para Pejuang

Sebagian orang yg mengaku berilmu tetapi ternyata realitanya justru memanfaatkan semangat orang baru belajar dengan mendoktrin murid-muridnya atas nama manhaj padahal itu hanyalah bentuk baru dari fanatisme/hizbiyah terselubung yang sedang dibangun untuk memprotect murid-muridnya agar tidak belajar dengan guru yg lain. Jadi hal ini kembali pada masalah hati, keikhlasan dan popularitas juga sebenarnya. Wallahul mustaan.

Semoga Allah Ta'ala mengiatiqomahkan kita diatas manhaj yang haq dan adil serta menjaga keikhlasan kita hingga akhir hayat.

Oleh itu, saudara fillah a'azzakumullah, kebenaran itu dari hakikatnya bukan dari orangnya dan ia adalah barangnya kaum muslimin yg hilang dmnpun ia mendapatkan nya disitu ia mengambilnya. Hikmah ini pernah dikutip oleh Al Allamah Syaikh Ibn Baz rahimahullah dalam risalah beliau tentang masalah sholat.

Siapa saja mungkin pernah bersalah dan terjatuh kedalam kesalahan. Namun jangan sampai membenci atau mencintai dengan tidak proporsional. Bahkan dengan lembaga tempat berkiprah mungkin banyak aspirasi sebagian kita yang tidak ter cover tetapi  percayalah jika memutuskan untuk berjuang bersama nya maka niatkan semuanya karena keridhaan Allah semata dan ingin menegakkan kalimat Allah bukan karena ini dan itu. Tetapi jka antum tidak merasa nyaman untuk disitu maka tidak ada paksaan bergabung bersama nya namun tetaplah bersama orang-orang shalih karena hati dan iman kita teramat lemah sementara fitnah syubhat dan syahwat apalagi akhir zaman ini sambar menyambar. Maka kita hanya mencari sebab bergaul berjuang dan berkumpul bersama orang-orang shalih semoga kelak kita diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

Riyadh di pagi hari yang cukup dingin.


Wednesday, January 1, 2020

Perjalanan Mencari Allah Ta'ala, Sebuah Catatan di langit udara menuju Colombo

#kajian_tasawuf
#perjalanan_mencari_Allah

Tingkatan setelah Islam adalah Iman kemudian derajat tertinggi ialah Ihsan. Ihsan dalam terjemahannya biasa diartikan sebagai berbuat baik.
Allah Ta'ala berfirman 
وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
yang artinya
"Berbuat baiklah sebagaimana Allah Ta'ala berbuat baik kepada kamu."

Ihsan dalam hadits Jibril dimaknai bahwa seorang hamba menyembah Allah Subhanahu Wata'ala seolah-olah ia melihat Sang Penciptanya dan jikalau ia tidak melihat-Nya maka Sang Pencipta Maha Melihat nya.

Bagaimana seorang hamba seolah-olah melihat Sang Pencipta nya?
Seorang hamba dalam amalannya akan berbuat yang terbaik karena ia merasa beramal langsung di hadapan sang penciptanya, ia juga menghadirkan dalam perasaannya bahwa ia sedang menemui Allah Ta'ala yang Maha Agung. Karena sesungguhnya melihat Allah Ta'ala hanya kelak di hari kiamat bagi orang-orang yang beriman.
Atau sekalipun ia tidak melihat Rabbnya maka ia akan senantiasa menghadirkan sifat muraqabah (merasa diawasi) dalam segala gerak-geriknya. Karena ia meyakini bahwa Allah Ta'ala Maha Melihat semua apa yang dilakuinya sendirian ataupun bersama dengan orang lain.

Dimana Allah?

Sebagian golongan diantara manusia yang ingin mengenali Tuhannya tentulah akan selalu mencari keberadaan sang penciptanya. Dan itu suatu hal yang fithrah sesuai dengan akal sehat dan manifestasi dari Iman kepada Allah Ta'ala yaitu mengimani akan keberadaanNya. Hanyasaja rasa penasaran dan keingintahuan itu hendaknya di bangun diatas ilmu dan makrifat yang benar.

Apabila tidak didasarkan pada pengetahuan yang kokoh maka seorang hamba akan tersesat dari jalan yang benar.

Oleh karena itu, sumber keyakinan akan keberadaan sang pencipta itu telah diterangkan melalui dalil-dalil petunjuk dari Al Qur'an dan As Sunnah. Perkara ini terkait dengan keimanan terhadap hal yang ghaib. Sesuatu yang sifatnya ghaib dalam syariat ini hukum asalnya tidak diketahui sampai datangnya keterangan dari nash-nash yang menjelaskan duduk persoalannya.

Allah Subhanahu Wata'ala yang Maha Mengetahui akan diri Nya maka sebagai seorang makhluk ciptaanNya wajib bagi kita untuk tunduk dengan kabar dan maklumat yang datang dari Nya melalui ayat-ayat Nya baik yang sifatnya kauniah maupun yang Quraniyah demikian juga dengan hujjah dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Disebutkan dalam hadits shahih riwayat Muslim (kitab hadits paling shahih setelah shahih Bukhari), suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada salah seorang hamba sahaya wanita (jariah); dimana Allah? Lalu jariah menjawab di atas langit. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk membebaskannya karena ia adalah wanita beriman.
Hadits ini ialah tafsiran dan penjelasan dari ayat-ayat dalam Al Qur'an yang begitu banyak menerangkan tentang keberadaan Allah diatas langit.
Dalam Al Qur'an surah Al Mulk Allah Ta'ala berfirman:
أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ [الملك : 16]
(16) Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?
أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ [الملك : 17]
(17)   atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?

Demikian juga dalam surah As Sajdah ayat 4-5.
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ [السجدة : 4]
(4)   Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ [السجدة : 5]
(5)   Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

Allah Subhanahu Wata'ala memiliki sifat Maha Tinggi


Penyebutan Al Qur'an selalu digunakan perkataan diturunkan dari langit dan Al Qur'an itu tentu saja ialah perkataan-perkataan Allah Ta'ala.
Dalam hadits mi'raj ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di perjalanankan ke atas langit ketujuh beliau bertemu dan menghadap Allah Ta'ala secara langsung menerima syariat shalat lima waktu.

Naluri fithrah manusia menerima hal tersebut (keberadaanNya diatas langit) karena manusia ketika berdo'a maka hatinya akan menunduk kepada yang diatas seraya menengadahkan tangan keatas langit. Ketika membuka kedua telapak tangan keatas langit maka kodrat manusia meminta kepada yang diatas bukan hanya sebagai kiblat doa sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang. Walaupun ada yang menganalogikan dengan orang yang sholat dengan menghadap ka'bah bukan berarti Allah berada di ka'bah tetapi hanya sebagai kiblat maka bentuk analogi tersebut adalah keliru ditinjau dari segi dalil-dalil yang jelas menyebutkan bahwa Allah Ta'ala diatas langit. Dan terkhusus lagi dalil yang mengatakan bahwa Allah Ta'ala bersemayam (beristiwa) diatas arsy.

Seperti itulah Allah Ta'ala memberitahukan kepada kita akan keberadaanNya. Dan kita wajib mengimani apa yang datang dari Nya tanpa mempersoalkan dan memalingkan serta menghilangkan makna yang ada karena dianggap tidak sesuai dengan logika berpikir kita yang terbatas dan sangat sederhana.


Tentang bagaimana keberadaanNya, beristiwa Nya dll maka kita tidak perlu untuk mengetahui Nya karena terpulang pada kaidah tadi yaitu sesuatu yang sifatnya ghaib dalam syariat ini hukum asalnya tidak diketahui sampai datang keterangan dari nash-nash yang menjelaskan duduk persoalannya.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman;
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ [طه : 5]
(5) (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy.
Yakni para mufassirin mengatakan arsy ialah makhlukNya yang paling tinggi dan Allah bersemayam dengan sesuatu yang sesuai dan layak dengan keagungan, keluasan, kemuliaan dan ketinggianNya.


Apakah dengan menetapkan tempat Allah Ta'ala akan mengurangi kebesaranNya?
Maka jawabannya tentu saja tidak. Karena demikianlah hujjah yang datang dari Nya maka semestinya kita mengikutinya. Lagi pula Allah Ta'ala Yang menciptakan langit dan arsy maka Dia lah yang Maha Mengetahui akan perkara tersebut tidak ada tempat bagi keterbatasan otak manusia untuk membandingkan antara ke-mahabesaran-Nya dan kebesaran makhluk ciptaanNya. Bahkan Imam Malik rahimahullah mengatakan bahwa beristiwa nya Allah Ta'ala sudah difahami, menanyakan kaifiatnya adalah tidak diketahui maka mempersoalkannya adalah bid'ah dalam agama. Dalam bahasa Arab istiwa bermakna bersemayam. Wajib meyakininya tanpa merekayasa maknanya.

Bolehkah meyakini bahwa Allah Ta'ala Maha Ada (Wujud) namun tidak bertempat?
Keyakinan ini adalah sangat keliru fatal karena jika kita berkeyakinan seperti ini maka betapa banyak dalil-dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah yang menerangkan bahwa Allah Ta'ala diatas langit akan kita ingkari. Lagi pula sesuatu yang ada wajib memiliki tempat dan hal ini didukung oleh firman Allah Ta'ala yang artinya Allah beristiwa diatas arsy.

Apakah Allah Ta'ala berada dimana-mana?
Kalau yang dimaksudkan ilmu Allah Ta'ala ada dimana-mana dengan mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dan yang terang-terangan maka benar adanya. Demikian juga keyakinan bahwa Allah bersama dengan hamba-hambaNya dalam pertolonganNya maka ini juga yang benar.
Akan tetapi keyakinan bahwa Allah Ta'ala dengan dzat Nya berada dimana-mana maka ini suatu keyakinan yang batil dan dapat bermuara pada kesyirikan. Dan Maha Suci Allah Ta'ala dari tempat-tempat yang kotor.

Jadi secara ringkasnya, Allah Ta'ala Maha Tinggi berada diatas langit namun dimana-mana dalam ilmu Nya yang tidak terbatas oleh jarak waktu dan tempat, dan Dia Allah Ta'ala senantiasa bersama dengan hamba-hambaNya dalam pertolonganNya.

Semoga Allah Ta'ala mewafatkan kita semuanya sebagai orang-orang yang bertauhid.



Colombo, Sri Lanka.

Saturday, December 28, 2019

Berikan Saja Yang Terbaik

Mungkin pernah suatu masa anda merasa kesal dan sesal atas perbuatan baik yang anda lakukan kepada orang lain?

Berikan saja yang terbaik dalam muamalah anda terhadap sesama manusia. Jangan pernah berharap balasan dari mereka karena hakikat dari hubungan baik yang anda berikan itu ialah ta'abud kepada Allah Subhanahu Wata'ala yang tentu saja karena anda mengharapkan keridhaan-Nya.

Apabila anda merasa kecewa tidak mendapatkan balasan yang setimpal mungkin saja itu ialah kudrat manusia ada pada orang lain yaitu jauh dari kesempurnaan dan naluri anda sebagai manusia menginginkan yang terbaik tetapi kuburkanlah dalam-dalam pengharapan kebaikan dari makhluk dan tanamkan dalam sanubari anda bahwa anda berbuat baik karena mengharapkan Wajah Allah Ta'ala semata.

Kunjungilah mereka walaupun anda berbeda dan doakan kebaikan dan keberkahan bagi mereka.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan lindungan Allah Ta'ala kelak di hari kiamat disebabkan karena kita saling mencintai Karena Nya.

Sunday, December 22, 2019

Lahjah-Lahjah Dalam Bahasa Arab dan Kendalanya bagi Para Penutur Non-Arab

لهجات اللغة العربية وتحدياتها لغير الناطقين بها
Lahjah-Lahjah Dalam Bahasa Arab dan Kendalanya bagi Para Penutur Non-Arab
١٥/١٢/٢٠١٩ 17/4/141
ألقيت في المهرجان اللغة العربيةبمسجد المحسنين، باري، إندونيسا

Masalah terbesar pada sebagian besar diantara kita sebagai seorang muslim ialah kita tidak faham bahasa Arab sebagai bahasa Al Quran dan Assunnah dan di waktu yang sama kita tidak menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa akademik di zaman ini.

من هنا أريد أن أكد أننا في الحقيقة لدينا الفرصة الكبيرة لتعلم اللغة الجديدة
karena sebenarnya bahasa Indonesia itu sendiri sebagai bahasa resmi Indonesia bukan bahasa ibu bagi kebanyakan masyarakat Indonesia atau ia adalah bahasa kedua bagi kita. 

Penutur asli bahasa Indonesia mungkin orang-orang berbahasa Melayu di Sumatra, Kalimantan bagian barat dan masyarakat yang tinggal di perkotaan. Biasanya yang berasal dari daerah nanti belajar bahasa Indonesia di sekolah, akses media dll. 
Jadi tidak sulit bagi kita untuk belajar bahasa Arab apalagi telah dijanjikan dalam Al Quran.

Padahal,
إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ [الزخرف : 3]
(3) Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).

Tetapi ketika mempelajari bahasa Arab tentu saja ada kendala dan tantangannya. Karena hidup itu sendiri ialah suatu ujian dan tantangan. 

Bahasa Arab itu seringkali dikesankan horor dan dianggap terlalu suci untuk dikenali. Karena bahasa Arab itu bagian dari agama, syaithan tidak akan pernah ridho kalau ummat Islam memahami agamanya. Bahkan orang Arab sendiri ada yang merasa minder berbahasa Arab. Misalnya ketika di beberapa bandara negara-negara Arab; orang-orang Arab termasuk pekerja bandara lebih memilih dan bangga menggunakan bahasa Inggris sekalipun dia tahu bahwa lawan bicaranya mampu berbahasa Arab. Padahal bahasa Arab kalau diniatkan mengikuti bahasa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka insyallah kita akan mendapatkan pahala.

Salah satu tantangan dalam bahasa Arab ialah lahjah. Dan secara khususnya, bahasa Arab ammiyah juga menjadi faktor yang menghambat perkembangan bahasa fushah. Bahasa Arab fushah berbeda dengan bahasa ammiyah (pasaran). Bahkan para ahli bahasa Arab mengatakan ammiyah itu musuh fushah. Dan Syaikh Ahmad Al-Libiy dalam pemaparannya tadi membedakan antara lahjah dan ammiyah. 
Tetapi perlu diketahui bahwa pada dasarnya bahasa Arab yang dikenali sekarang ini ialah bahasa Arab dari Lahjah Qurays tetapi perbedaan dalam lahjah/logat kadang ditolerir dalam Al Quran selama perkataan itu berasal dari lahjah-lahjah Arab yang diakui. Misalnya dalam surah Al hujurat ada kata-kata fatabayyanu dalam qiraah lain dibaca dengan fatsabbatu. Perbedaan lahjah itu ialah hal yang biasa selama berasal dari lahjah mu’tamadah dan tidak keluar dari kaidah-kaidah nahwu.
قال الله عز وجل في السورة الروم
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ [الروم : 22]
Artinya:
(22) Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui
قال الإمام الطبري رحمه اللهالقول في تأويل قوله تعالى(وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْيقولواختلاف منطق ألسنتكم ولغاتها

وفي زمان رسول الله صلى الله عليه وسلم كانو يعترفون على اللهجات،
إضافة على ذلك اللهجة المعتمدة في النحو غير اللغة قريش هي اللغة بني تميم، الحميري

Misalnya dalam bahasa kita (untuk pendekatan contoh ril) dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia ada beberapa kata-kata yang sama tetapi maknanya berbeda atau lain di Indonesia lain dipakai di Malaysia tetapi sama-sama ada dalam KBBI. Misalnya kata pusing: di Indonesia biasa menertawakan ketika pusing diartikan sebagai berputar karena dipakai kebanyakan dengan arti pening di kita. Namun ternyata kedua makna itu ada dalam KBBI. Pinggir di Indonesia kalau di Malaysia disebut dengan tepi. Dsb.

Imam Syafi’i rahimahullah ketika mempelajari bahasa Arab beliau masuk tinggal di kabilah-kabilah Arab.

Contoh sederhana yang bisa menjadi motivasi dalam belajar bahasa Arab ialah:
  1. Ada orang Indonesia pegawai kedutaan Arab Saudi berbicara bahasa Arab seperti orang Arab padahal ia hanya belajar bahasa Arab ammiyah dari YouTube saja.
  2. Saya sendiri berasal dari jurusan ekonomi bukan alumni pesantren tetapi karena saya belajar di mahad Al Lughah Al Arabiyah selama 2 tahun lalu masuk S2 yang menggunakan bahasa Arab. Dan sebagian orang pesimis dengan langkah saya apalagi S2 Ekonomi kebanyakan diajar pakai ammiyah. Misalnya saja mata kuliah pertama matematika ekonomi diajar sama orang Syria pakai lahjah Syiria. Tapi seiring dengan waktu akhirnya mudah menyesuaikan. Tentu saja dengan bergaul dan berbahasa Arab dengan orang-orang Arab. Dan Allah memberikan jalan terbaik bagi orang-orang yang selalu optimis dan berprasangka baik kepada Allah subhanahu wata’ala.

أقسام اللغة العربية
  1. الفصحى (العربية التراثية) (Classical Arabic)
  2. الفصيحة (modern standar arabic)
  3. العامية (slang)
Apa yang dimaksud dengan lahjah?
Lahjah ialah dialek atau logat atau colloqial atau spoken Language (bahasa percakapan) yang digunakan di beberapa kawasan Arab dimana lahjah Arabiya secara umum dikategorikan dalam 9 kelompok besar:
  1. Hassaniya Arabic (Mauritania)
  2. North African Arabic (Marocco, Algeria, Tunisia, & Libya)
  3. Egyptian Arabic
  4. Levantine Arabic (Lebanon, Syria, Jordan, Palestine)
  5. Iraqi Arabic
  6. Gulf Arabic (Kuwait, Bahrain, Qatar, UEA, Oman)
  7. Hejazi Arabic (Western Saudi Arabia)
  8. Najdi Arabic (Central Saudi Arabia)
  9. Yemeni Arabic (Yemen, Southwestern Saudi Arabia)

Ciri-Ciri Lahjah
  1. Penggunaan nahwu sederhana 
    • مثالأنا قاعدأنا كاتبوليس أنا أكتب، أنا قعدت وغير ذالك،،،،
  2. Beberapa kata diucapkan berbeda tergantung lahjah nya
  3. Beberapa perkataan dan ungkapan yang sama memiliki makna yang berbeda di tiap lahjah. Misalnya kata mabshuth: di Saudi maknanya bagus tetapi di Irak maknanya dipukul.
  4. Biasanya lahjah nanti ditulis jika ada sesuatu humor yang mau diungkapkan
  5. Kata-katanya lebih mudah dan relatif berbeda dengan fushah. 
    • ليش dari kata لأي شيء يعني لماذا؟
    • كيف حالك؟
      • في الرياضإيش لونك؟
      • في جدةإيش الحرجع؟
      • في الشامكيفك؟
      • في مصرإزيك، انت عامل إي؟
        • أي النوع الذي سنختار في التعلم اللغة العربية؟



أي شيء نتعلم؟
  1. الفصحى لأنها تساعدنا في فهم القران والسنة، وهذه النقطة نتفق فيها
  2. نبدأ بالاستماع ثم المحادثة نتعلم القراءة، الكتابة، وبعد ذلك تعلم اللهجة
  3. المتعلمون من العرب يفضلون الفصحى
  4. إختيار نوع اللغة حسب المستوى المتكلم
  5. من الممكن أن نتعرف على اللهجة الأساسية المعروفة؛ مثالإيش هذا؟ إيش فيك؟ إيوىلأن أصلها من الفصحى
  6. اللهجة المغربية والجزائرية غير مفهومة في السعودية ولذلك ينبغي أن لا نبدأ بالتعلم اللهجة المغربية في بداية التعلم اللهجة.

نسأل الله أن يفقهنا في اللغة العربية كي نتفقه في الدين

Wednesday, December 18, 2019

Hukum Seputar Pakaian Di Bawah Mata Kaki Bagi Kaum Lelaki



Diantara adab-adab bagi seorang muslim ialah berpakaian yang indah dari pakaian yang kita miliki, dan yang paling utama bagi lelaki adalah pakaian yang berwarna putih, tidak menjulur atau labuh di bawah mata kaki (isbal), memulai memakai dengan tangan kanan dan memulai membuka dengan tangan kiri.

Dalam masalah memanjangkan kain di bawah mata kaki ada beberapa persoalan diantaranya;


Apakah larangan isbal hanya berlaku bagi orang yang sombong?

Sebagian orang berhujjah mengenai pakaian (celana/sirwal, jubah ataupun kain sarung) di bawah mata kaki bagi laki-laki yang tidak sombong dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Abu Daud dan An-Nasai, bahwa Abu Bakr radhiallahu anhu berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah mendengarkan hadits tersebut: “Sesungguhnya kain sarungku selalu melorot ke bawah kecuali saya menaikkannya”, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab kepada Abu Bakr radhiallahu anhu:
“Sesungguhnya engkau bukan termasuk yang melakukannya dengan sombong.
Begitu pula hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam riwayat Abu Daud dari sahabat Ibnu Mas’ud:
مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِى صَلَاتِهِ خُيَلَاءَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ جَلَّ ذِكْرُهُ فِى حَلٍّ وَلَا حَرَامٍ. [رواه أبو داود]
Artinya: “Barangsiapa yang memanjangkan sarungnya dalam shalatnya karena sombong, maka ia di hadapan Allah seperti orang yang tidak mengenal halal dan haram.”

Jawaban:
Pendapat ini lemah ditinjau dari beberapa sisi
  1. Hadits Abu Bakr radhiyallahu anhu khusus kepada beliau. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mentazkiyah (memberikan rekomendasi) kepada beliau dengan mengatakan engkau bukan orang yang sombong adapun kita muslim yang lainnya tidak ada yang mentazkiyah kita.
  2. Hukum asal pakaian Abu Bakr radhiyallahu anhu adalah tidak isbal (yaitu diatas mata kaki) namun karena badan beliau kurus sehingga kainnya selalu turun dan beliau pun berusaha menaikkannya.
  3. Hadits larangan isbal bagi yang sombong ialah hadits mutlak adapun hadits larangan isbal bagi seluruh lelaki ialah hadits khusus. Dalam kaidah ushul fiqh ketika hadits khusus bertemu dengan hadits umum maka hadits khusus lebih didahulukan karena sifatnya penjelasan terhadap dalil umum.
  4. Isbal dengan kesombongan ialah termasuk dosa besar, adapun isbal tanpa kesombongan maka termasuk dosa biasa yang jika dilakukan berulang-ulang maka dikhawatirkan terjerumus dalam dosa besar
Referensi
  • Syaikh Salih Al Usoimi waffaqallahu dalam risalah Al Adabul AlasyorohM
  • Minhajul Muslim oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi rahimahullah
  • Al Isbal Lighairi Khuyala Syaikh Walid Muhammad Nabih hafizhahullah
  • Syaikh Ibn Baz rahimahullah Hukm Isbal li Ghayri Al Khuyalaa
Semoga Allah Ta'ala memberikan taufik-Nya kepada kita untuk menjalankan sunnah-sunnah RasulNya shallallahu alaihi wasallam.