Wednesday, December 18, 2019

Tentang Prediksi Kapan Terjadinya Hari Kiamat

Disampaikan pada Tausiah Ba’da Subuh di Masjid Al Muhsinin, Pare, Kediri 
20 04 1441 H / 18 12 2019 M

Diantara yang wajib kita ketahui dengan benar dalam syariat agama ini ialah rukun iman yang kelima yaitu beriman kepada hari akhir. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits yang masyhur ketika Jibril datang kepada beliau bertanya apakah yang dimaksud dengan iman? Lalu beliau menjawab;
الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقدر خيره وشره 
Iman ialah beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya rasul-rasulNya, hari akhir dan takdir baik dan buruk.

Pembahasan tentang hari kiamat adalah suatu pembahasan yang mengundang rasa penasaran dan tanda tanya pada kebanyakan orang. Kapankah hari kiamat itu terjadi? Dan bagaimana karakteristik dan keadaannya?

Namun perlu dipahami bahwa ilmu tentang hari kiamat adalah ilmu ghaib yang tidak diketahui melainkan wahyu yang datang dari Allah subhanahu wata’ala dan hadits-hadits dari Rasulullah shalllallahu alaihi wasallam.

Allah Ta'ala berfirman

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا [الأحزاب : 63]

( 63 )   Manusia bertanya kepadamu tentang hari kiamat. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya.

Demikian pula firmanNya
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَكَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [الأعراف : 187]
(187)   Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Kapankah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا [النازعات : 42]
(42)   (Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya

فِيمَ أَنتَ مِن ذِكْرَاهَا [النازعات : 43]
(43)   Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?

إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَاهَا [النازعات : 44]
(44)   Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).

إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخْشَاهَا [النازعات : 45]
(45)   Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)

Seorang sahabat mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kapan terjadinya hari kiamat lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab apakah yang telah kamu persiapkan untuknya?

Dalam hadits Jibril juga disebutkan bahwa Jibril bertanya kepada beliau kapan terjadinya hari kiamat lalu beliau menjawab orang yang bertanya tentangnya lebih tahu daripada penanya. Lalu Jibril menanyakan tanda-tandanya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab:
  1. Ketika seorang budak (hamba) melahirkan tuannya
  2. Manusia berpakaian tetapi telanjang
  3. Manusia berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan
Dari Hadits ini disimpulkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja tidak berani berkata-kata tanpa ilmu yang dalam hal ini wahyu yang diturunkan kepada beliau. Beliau shallallahu alaihi wasallam dalam masalah hari kiamat seluruhnya menyebutkan Hadits-Hadits tentang tanda-tanda akan terjadinya hari kiamat. Tidak pernah beliau menetapkan secara pasti pada tahun sekian kecuali beliau shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa kiamat akan terjadi pada hari Jumat.

Ada golongan yang mendustakan hari kiamat yaitu dimulai dari musyrikin Qurays hingga mempunyai pengikut hingga saat ini. Dan ada golongan yang berlebih-lebihan menyikapi hari kiamat sampai mencari-cari secara detail tanda-tanda hari kiamat. Misalnya berusaha mencari pulau tempat tinggalnya dajjal, dll. Namun sikap yang benar ialah mengimani ayat-ayat dan hadits-hadits yang datang dari Al Quran dan Al Hadits adapun yang tidak diketahui maka wajib bagi kita untuk diam dan tidak berkata tanpa ilmu.

Hari kiamat memiliki nama-nama yang banyak disebutkan dalam Al Quran seperti Al Qiyamah, Al Haqqah, Al Waqiah, Al Ghasyiah, Al Qariah, Az-Zilzalah, Yaumuddin, Yaumul Qarar dsb. Setelah disebutkan namanya biasanya akan dijelaskan akan kengerian yang akan terjadi ataukah orang-orang yang mendustakannya. Sesuatu yang memiliki nama yang banyak biasanya memiliki peranan yang sangat penting. Misalnya Al Quran memiliki banyak nama seperti: Al Furqan, Al Huda, Al Majid, Al Munzal, dll. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memiliki banyak nama seperti: Muhammad, Ahmad, Al Mustafa, Abul Qasim, Rasulullah, Khatamunnabiyyin dll.

Perihal hari kiamat itu sangat dahsyat dan sangat menakutkan. Mari kita lihat salah satu contohnya dalam Al Quran Surah Azzilzalah Allah taala berfirman:
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),

وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,

وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا
dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
pada hari itu bumi menceritakan beritanya,

بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا
karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ
Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka

Setelah Allah taala menceritakan tentang perihalnya lalu Allah kemudian mengatakan:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Berarti bahwa balasan itu akan sesuai dengan amalan yang dilakukan.
Jadi pada hakikatnya membangun hipotesis dan kesimpulan sementara tentang kapan tepatnya kedatangan hari kiamat itu terjadi dengan berdasarkan kepada Hadits-Hadits tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat lalu mengaitkan dengan fenomena dan realita yang sedang berlaku sekarang ini seperti lambang dajjal pada menara tertentu 
adalah tidak perlu. Sebab yang wajib bagi kita ialah mempersiapkan amal shalih sebagai amal penting untuk menghadapi hari kiamat serta mengenali tanda-tanda hari kiamat secara umum saja. Cukuplah apa yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai petunjuk bagi kita. 
Yang perlu kita persiapkan adalah amal shalih
Amalan kebaikan yang kita kerjakan harus berkualitas dan tidak sekedar jumlahnya yang banyak. Amal yang sedikit tetapi berkualitas jauh lebih baik daripada amalan yang banyak namun tidak berkualitas. Amalan yang berkualitas ialah amalan yang soleh atau terbaik.
Allah Taala berfirman:
الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملًا 
Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalannya.

Seperti apakah amal yang terbaik?
Amal yang terbaik sebagaimana dikatakan oleh sofyan bin uyainah dalam menafsirkan ayat ini ialah wajib memenuhi dua syarat yaitu;
1. Ikhlas semata karena Allah taala; mengapa? karena Allah taala yang memerintahkan secara langsung dengan mengatakan

وما أميرو إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء
Tidaklah kuperintahkan kalian melainkan untuk beribadah secara ikhlas diatas jalan yang lurus.
2. Mutabaah (mengikuti) petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Allah taala berfirman
وما اتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم فانتهوا 
Apa-apa yang telah datang dari Rasulullah maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda 
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
Barangsiapa yang beramal dengan amalan atas nama syariat yang mana tidak ada contohnya dari kami maka amal itu tertolak.

Jadi, persiapkanlah amal yang terbaik untuk menghadap Allah taala sebelum datangnya hari kiamat.

Semoga Allah taala menganugerahkan kepada kita semua keikhlasan dalam beramal dan mutabaah (mengikuti) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Friday, November 29, 2019

Tips Belajar Bahasa Asing

Intisari dari jawaban kepada salah seorang jamaah masjid ba'da solat isya di Masjid Al Muhsinin Pare, 28 11 2019

Pada dasarnya mempelajari suatu bahasa baru bagi seseorang akan meningkatkan kecerdasan dan memperluas wawasan. Karena bahasa baru itu ialah budaya baru yang akan kita pelajari. 
Seseorang dikatakan menguasai suatu bahasa jika benar-benar cakap dalam bahasa tersebut. 
Kecakapan dalam berbahasa diukur dari empat kompetensi:
  1. ‌Mendengarkan
  2. ‌Berbicara
  3. ‌Membaca
  4. ‌Menulis
Dalam mempelajari bahasa baru maka tingkatan diatas harus dilakukan secara berurutan.
Sebagai contoh misalnya yaitu mari menerapkan konsep diatas dalam Bahasa Arab. Karena Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur'an selayaknya setiap muslim mempelajari.

Diantara tips-tips belajar bahasa Arab ialah;

1. Jika seseorang mau mempelajari bahasa Arab maka ia terlebih dahulu lebih banyak mendengarkan (إستماع) meskipun belum faham keseluruhan. Dengan menonton film kartun berbahasa Arab yang bahasanya lebih mudah dan mendengarkan ceramah berbahasa Arab yang bahasanya sederhana maka Hal ini akan membantu kita untuk menyimpan kosakata (مفردات) baru dan setelah itu kita mencari maknanya.

2. Apa yang telah didengarkan maka sebaiknya dipraktekkan dalam pembicaraan. Menghafalkan kosakata tanpa mempraktekkannya maka hasilnya nihil, karena bisa saja kita lupa jika kosakata tersebut tidak dipakai. Berarti kita telah melangkah pada tahapan yang kedua yaitu berbicara (محادثة). Cobalah untuk mencari orang-orang yang dapat diajak berbahasa Arab. Dan lebih baik adalah orang Arab yang lancar berbahasa arab (الناطق). Dalam menggunakan suatu bahasa semestinya kita mengikuti budaya (الثقافة) bahasa itu sendiri, tidak menerjemahkan rasa bahasa ibu kita kedalam bahasa Arab atau bahasa asing lain yang kita pelajari.

3. Dalam tahapan yang ketiga ialah berusaha membaca teks-teks yang menggunakan bahasa sederhana termasuk diantaranya kitab kecil (كتيب) karangan ulama yang bahasanya tidak terlalu sulit. Misalnya arkanul iman oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah. Atau aqidatutauhid karya Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah dan yang semisalnya.

4.  Jika seseorang telah melewati tiga tahapan diatas maka cobalah untuk berlatih menulis. Dan tentu saja ini ialah tahapan yang lebih tinggi yang memerlukan pemahaman yang baik dalam tata bahasa Arab (نحوى). Namun diharapkan dalam tahapan ini sebaiknya tahapan-tahapan sebelumnya dianggap matang.

Perlu  diketahui bawwa sebaiknya para pemula dalam bahasa Arab tidak terlalu fokus pada pelajaran nahwu namun sebaiknya memulai dengan melatih keberanian berbicara selanjutnya boleh mempelajari dan menerapkan sedikit demi sedikit konsep nahwu yang trlah dipelajari namun jangan terlalu idealis dalam menerapkannya mengingat tingkatannya masih pemula. Oleh karena itu para pengajar bahasa sebaiknya lebih banyak memberi toleransi kepada kesalahan pembelajar pada tingkatan pemula. Banyak memberikan motivasi kepada mereka sampai mereka benar-benar mencintai bahasa barunya. Jika mereka telah jatuh cinta dengan bahasa barunya maka mereka akan siap menerima teguran nantinya ketika menemui kesalahan berbahasa.

Wallahu a'lam


Semoga Allah Ta'ala memberikan taufik-Nya kepada kita semuanya dan kecakapan dalam berbahasa Arab.

Wednesday, November 27, 2019

Keikhlasan akan Mengantarkan Kepada Ridho Ilahi

(Serial Tadabbur Al Qur’an surah Al Isra ayat 18-19)
Kultum Masjid Al Muhsinin Pare Kediri, Rabu 27 11 2019

Suatu kenikmatan yang teramat besar yang Allah subhanahu wata’ala karuniakan kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul di masjid yang mulia ini yaitu di kampung Inggris pare Kediri -semoga Allah menjaganya dan kita semua dari segala keburukan- yakni berkumpul dalam kebaikan dan ketaatan kepadaNya insyallah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman
مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا [الإسراء : 18]
( 18 )   Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami siapkan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Yang dimaksud dengan الْعَاجِلَةَ (Al Aajilah) dalam ayat ini sebagaimana dikatakan oleh imam Al Baghawi rahimahullah ialah kehidupan dunia

dalam tafsir Attobari disebutkan bahwa berkata tabiin Qatadah rahimahullah 
قوله ( مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ) يقولمن كانت الدنيا همّه وسدمه وطلبته ونيته، عجَّل الله له فيها ما يشاء، ثماضطرّه إلى جهنم، 
Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai angan-angannya, impian, permintaan dan niatnya maka akan disegerakan baginya bagi siapa yang dikehendaki  namun kelak akan dicampakkan ke dalam neraka.
قال ( ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا ) مذموما في نعمة الله مدحورا في نقمة الله.
Berbangga-bangga dalam nikmat tapi terjatuh kelak dalam siksa Allah 

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا [الإسراء : 19]
( 19 )   Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

Qatadah mengatakan
وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا ) شكر الله لهم حسناتهم، وتجاوز عن سيئاتهم.
Allah taala membalas kebaikan mereka dan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka.

Kehadiran kita di kampung Inggris ini tentu saja memiliki tujuan dan pencapaian yang berbeda-beda. Ada mungkin diantara kita yang datang dari jauh untuk belajar di sini dalam rangka mengejar targetnya. Dan ada jug yang mungkin punya harapan-harapan yang tidak sama dengan yang lain. Ada yang datang belajar bahasa Arab dan ada juga yang belajar bahasa Inggris dan ada juga yang merupakan penduduk sini.

Tidaklah menjadi suatu masalah manakala kita memiliki tujuan yang berbeda namun tujuan-tujuan yang kita rencanakan itu hendaknya dalam satu kerangka tujuan utama yaitu meraih keridhaan Allah subhanahu wata’ala.

Dan keridhaan Allah taala itu hanya diperoleh dengan keikhlasan. Jadi, kita datang belajar bahasa Arab karena kita ingin memahami Al Quran, atau karena ingin pandai ngomong bahasa Arab, kita belajar bahasa Inggris karena kita ingin kuliah di luar negeri misalnya.
Maka hal itu tidak mengapa sepanjang kita jadikan keridhaan Allah sebagai tujuan utama kita. Suatu waktu nanti setelah target kita tercapai misalnya kuliah di luar negeri lalu kita selesai dan bercita-cita kembali memanfaatkan ilmu kita untuk kemajuan ummat dan bangsa maka ini ialah suatu hal yang terpuji, kita ingin hebat dalam bahasa Arab agar kelak faham Al Quran dan Al Hadits lalu mengajarkan kepada ummat maka ini suatu amalan yang mulia.

Akan tetapi perlu kita tekankan dan senantiasa saling mengingatkan tentang pentingnya keikhlasan dalam niat kita. 
Kepada siapa niat itu kita sandarkan?
Apakah Kita ke masjid solat berjamaah lillahi taala tidak ada niat lain karena riya?
Apakah aktivitas-aktivitas keseharian yang kita lakukan hanya sebagai rutinitas duniawi semata? ataukah sekedar mencari popularitas dan ketenaran di tengah-tengah manusia?

Dalam suatu hadits yang sering kali kita dengarkan, bahwasanya dari sahabat Umar bin khattab radhiallahu anhu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda
 إنمََّا لأَْعْمَالُ بِالنّيَّاتِوَإِنما لِكُلّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Umar secara bersendirian dimana dalam ilmu Hadits disebut sebagai Hadits Ahad, ijma para ulama menjadikannya sebagai hujjah pada dua hal:
  1. خبر عن حُكم الشريعة على العمل.
Bahwa hukum syariat suatu amalan (diterima atau ditolak) tergantung pada niatnya.
  1. خبر عن حُكم الشريعة على العامل
Orang yang beramal akan mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang diniatkan.

Dari sinilah para ulama yang mengatakan boleh jadi suatu amalan terlihat kecil di mata manusia namun besar dihadapan Allah taala karena niatnya yang berbeda. Mungkin ada dua orang yang berdiri pada satu saf dengan shalat yang sama namun pahalanya berbeda disebabkan niatnya yang berbeda.

Dalam lanjutan hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi satu contoh amalan yaitu berhijrah
  1. المهاجر إلى الله ورسوله. Orang yang berhijrah kepada Allah dan rasulnya

📎 وأعاد الجزاء بصيغة العمل للإعلام بثبوث أجرهفَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى ال وَرَسُولِهِ نيّةً وقصدافَهِجْرَتُهُ إلَى ال وَرَسُولِه أجرًا وثوابا.
Karena niat hijrahnya kepada Allah dan rasulnya maka ia mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya.
  1. المهاجر لغير ال ورسوله صلى الله عليه وسلم Orang yang berhijrah kepada selain Allah dan rasulNya
  2. 📎 فلم يصب من هجرته إلا كونه تاجرًا إذا أصاب دنيا أو ناكحا إذا تزوج امرأةً.
Dia tidak mendapatkan ganjaran pahala atas hijrahnya melainkan sebagai pedagang yang akan mendapatkan tujuan dunianya ataupun menikah jika tujuannya untuk menikahi wanita karena semata-mata tujuan dunia ingin yang dicapai.

💡 واخـتـار الـنـبـي صلى الله عليه وسلم ضـرب المـثـال بـالـهـجـرة لأنـه عـمـل لـم تـكـن تـعـرفـه الـعـرب قـبـل الإسـلامفـإن الـعـرب لـم تـكـنلـتـتـرك بـلادهـا إلا لعدوّ يَغلب أو ربيع يُطلب
Rasulullah mencontohkan hijrah dalam hadits ini karena ia suatu pekerjaan yang berat dan memiliki tantangan yang berat pula. Hijrah itu tidak dikenali orang Arab sebelum Islam, dan orang-orang Arab itu tidak meninggalkan negerinya kecuali jika mereka terkalahkan musuh mereka atau cuaca yang panas sehingga mereka mencari daerah yang lebih dingin cuacanya.

Diantara ulama ada yang mengatakan tidak ada suatu yang paling sulit saya perbaiki melainkan keikhlasan saya. Namun pengaruh keikhlasan itu akan terasa dan tertinggal membekas. Sedangkan sesuatu yang dikerjakan dengan tujuan selain Allah maka akan hilang begitu saja. 

lihatlah misalnya diantara karya-karya para ulama dahulu, Kitab Hadits arbain Nawawiyah yang ditulis oleh imam Nawawi rahimahullah suatu kitab yang tipis memuat 42 Hadits saja namun dihafalkan, ditelaah, dipelajari dan dikaji dimana-mana hingga saat ini. Sementara pada waktu yang sama sebagaimana kata para ulama ada juga kitab arbain juga yang dikarang di zamannya namun tidak menjadi masyhur, mungkin saja karena faktor keikhlasan. Wallahu a’lam. Niat dan keikhlasan itu tempatnya di hati hanya antara kita dan sang pencipta yang mengetahuinya.

Oleh karena itu, mari kita sama-sama memperbaiki niat masing-masing-masing mengikhlaskan semata-mata karenaNya demi menggapai keridhaanNya agar kelak kita dimasukkan ke dalam syurga Firdaus.  Sesungguhnya Yusuf alaihissalam diselamatkan dari fitnah wanita karena keikhlasannya. 
إنه من عبادنا المخلصين
Sesungguhnya ia merupakan diantara hamba-hambaKu yang ikhlas.